Hukum
Jaminan
Soal!
1.
Apa yang dimaksud dengan Hukum Jaminan?
2.
Sebutkan dasar Hukum Jaminan dalam KUH Perdata!
3.
Prinsip-prinsip pemberian kredit (5C) !
Jawab!
1.
Istilah hukum jaminan berasal dari
terjemahan zakerheidesstelling, zekerheidsrechten atau security of
law. Dalam Keputusan Seminar Hukum Jaminan yang diselenggarakan oleh Badan
Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman bekerja sama dengan Fakultas
Hukum Universitas Gadjah Mada tanggal 9 sampai dengan 11 Oktober 1978 di
Yogyakarta menyimpulkan, bahwa istilah “hukum jaminan” itu meliputi pengertian
baik jaminan kebendaan maupun perorangan. Berdasarkan kesimpulan tersebut,
pengertian hukum jaminan, melainkan memberikan bentang lingkup dari istilah
hukum jaminan itu, yaitu meliputi jaminan kebendaan dan jaminan perseorangan.
2.
Jaminan secara umum diatur dalam Pasal 1131 KUH Perdata yang menetapkan bahwa
segala hak kebendaan debitur baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak,
baik yang sudah ada maupun yang akan ada di kemudian hari menjadi tanggungan
untuk segala perikatannya. Dengan demikian, segala harta kekayaan debitur
secara otomatis menjadi jaminan manakala orang tersebut membuat perjanjian
utang meskipun tidak dinyatakan secara tegas sebagai jaminan.
3.
Prinsip-prinsip pemberian kredit (5-C) antara lain;
Character
adalah data tentang kepribadian dari calon pelanggan seperti sifat-sifat
pribadi, kebiasaan-kebiasaannya, cara hidup, keadaan dan latar belakang
keluarga maupun hobinya. Character ini untuk mengetahui apakah nantinya calon
nasabah ini jujur berusaha untuk memenuhi kewajibannya dengan kata lain ini
merupakan
willingness to pay.
Capacity merupakan kemampuan calon nasabah dalam mengelola usahanya yang dapat dilihat dari pendidikannya, pengalaman mengelola usaha (business record) nya, sejarah perusahaan yang pernah dikelola (pernah mengalami masa sulit apa tidak, bagaimana mengatasi kesulitan). Capacity ini merupakan ukuran dari ability to play atau kemampuan dalam membayar.
Capital adalah kondisi kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan yang dikelolanya. Hal ini bisa dilihat dari neraca, laporan rugi-laba, struktur permodalan, ratio-ratio keuntungan yang diperoleh seperti return on equity, return on investment. Dari kondisi di atas bisa dinilai apakah layak calon pelanggan diberi pembiayaan, dan beberapa besar plafon pembiayaan yang layak diberikan.
Collateral adalah jaminan yang mungkin bisa disita apabila ternyata calon pelanggan benar-benar tidak bisa memenuhi kewajibannya. Collateral ini diperhitungkan paling akhir, artinya bilamana masih ada suatu kesangsian dalam pertimbangan-pertimbangan yang lain, maka bisa menilai harta yang mungkin bisa dijadikan jaminan.
Condition, pembiayaan yang diberikan juga perlu mempertimbangkan kondisi ekonomi yang dikaitkan dengan prospek usaha calon nasabah. Ada suatu usaha yang sangat tergantung dari kondisi perekonomian, oleh karena itu perlu mengaitkan kondisi ekonomi dengan usaha calon pelanggan.
willingness to pay.
Capacity merupakan kemampuan calon nasabah dalam mengelola usahanya yang dapat dilihat dari pendidikannya, pengalaman mengelola usaha (business record) nya, sejarah perusahaan yang pernah dikelola (pernah mengalami masa sulit apa tidak, bagaimana mengatasi kesulitan). Capacity ini merupakan ukuran dari ability to play atau kemampuan dalam membayar.
Capital adalah kondisi kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan yang dikelolanya. Hal ini bisa dilihat dari neraca, laporan rugi-laba, struktur permodalan, ratio-ratio keuntungan yang diperoleh seperti return on equity, return on investment. Dari kondisi di atas bisa dinilai apakah layak calon pelanggan diberi pembiayaan, dan beberapa besar plafon pembiayaan yang layak diberikan.
Collateral adalah jaminan yang mungkin bisa disita apabila ternyata calon pelanggan benar-benar tidak bisa memenuhi kewajibannya. Collateral ini diperhitungkan paling akhir, artinya bilamana masih ada suatu kesangsian dalam pertimbangan-pertimbangan yang lain, maka bisa menilai harta yang mungkin bisa dijadikan jaminan.
Condition, pembiayaan yang diberikan juga perlu mempertimbangkan kondisi ekonomi yang dikaitkan dengan prospek usaha calon nasabah. Ada suatu usaha yang sangat tergantung dari kondisi perekonomian, oleh karena itu perlu mengaitkan kondisi ekonomi dengan usaha calon pelanggan.
No comments:
Post a Comment